Jumat, 16 Maret 2012

Etika dan Profesionalisme


  • Pengertian Etika

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia Etika adalah
Ilmu tentang apa yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban moral
Kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak

Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut oleh masyarakat.
Menurut asal usul kata Etika berasal dari bahasa Yunani  yaitu "Ethos" yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Etika hampir mirip dengan moral. Hanya saja moral lebih kepada rasa dan karsa manusia dalam melakukan segala hal di kehidupannya. Moral lebih mengacu kepada dorongan untuk menaati etika.

  • Paham Eudaemonisme
Prinsip pokok pada paham ini adalah kebahagiaan bagi diri sendiri dan kebahagiaan untuk orang lain. Menurut  Aristoteles untuk mencapai eudaemonia memerlukan 4 hal seperti :
1. Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan.
2. Kemauan
3. Perbuatan baik
4. Pengetahuan batiniah

  • Paham Positivisme
Secara Etimologi, positivisme berasal dari bahasa filsafat yang memiliki makna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. tokoh aliran ini adala August Comte (1798-1857). dasarnya paham Positivisme bukanlah suatu aliran yang berdiri sendiri namun masih memerlukan empirisme dan rasionalisme.
Paham positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar dan didasarkan pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan tersebut diperoleh dengan cara penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat. hal ini dikarenakan oleh spekulasi metafisis dihindari. Terminoogi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad 19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metafisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi, fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual. Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate cause) dari setiap fenomena yang terjadi.
Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi (fictionalist). Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup), pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abat 20 yang disebut logika positivisme (logical positivism).
Pengajaran utama dalam logika positivisme dikembangkan pada tahun 1920 oleh Moritz Schlich, Herbert Feigl, Kurt Gödel, Hans Hahn, Otto Neurath, Friedrich Waismann, Rudolf Carnap and kelompok lain yang sering disebut Vienna Circle. Logika positivisme menempati posisi sebagai filosofi empiris yang radikal, dan para pendirinya percaya bahwa hal ini merupakan awal babak baru dalam penyelidikan filosofi. Tujuan dari seluruh analisis filosofi adalah analisis logika dari ilmu yang dinyatakan sebagai positif, atau empiris, yang merupakan label dari logika positivisme.
Logika positivisme mengalami modifikasi dan akhirnya digantikan selama dua dasa warsa dengan bentuk yang lebih matang dari pengajaran para positivis yang disebut logika empirisme (logical empiricism). Dikelompokkan melalui adanya perbedaan dalam membuat analisis, ahli falsafah yang mempunyai sumbangan pemikiran adalah Carnap, Ernest Nagel, Carl Hempel, dan Richard Braithwaite.
Aliran Marxisme
Berdasarkan “Dialectical Materialsme” yaitu segala sesuatu yang ada dikuasai oleh keadaan material dan keadaan material pun juga harus mengikuti jalan dialektikal itu. Aliran ini memegang motto “segala sesuatu jalan dapatlah dibenarkan asalkan saja jalan dapat ditempuh untuk mencapai sesuatu tujuan”. Jadi apapun dapat dipandang baik asalkan dapat menyampaikan/menghantar kepada tujuan


  • Aliran Naturalisme
Naturalisme berasal dari kata “nature.” Kadang mendefinisikan “nature” hanya dalam makna dunia material saja, sesuatu selain fisik secara otomatis menjadi “supranatural.” Tetapi dalam realita, alam terdiri dari alam material dan alam spiritual, masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan, misalnya, memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi sebagai asal dan fondasi kebenaran.
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk. Jean Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan adalah menjadi perusak alam semesta.

  • Aliran Idealisme
Sangat mementingkan eksistensi akal pikiran manusia sebab pikiran manusialah yang menjadi sumber ide. Ungkapan terkenal dari aliran ini adalah “segala yang ada hanyalah yang tiada” sebab yang ada itu hanyalah gambaran/perwujudan dari alam pikiran (bersifat tiruan). Sebaik apapun tiruan tidak akan seindah aslinya (yaitu ide). Jadi yang bai itu hanya apa yang ada di dalam ide itu sendiri.


  • Aliran Pragmatisme
Aliran ini menititk beratkan pada hal-hal yang berguna dari diri sendiri baik yang bersifat moral maupun material. Yang menjadi titik beratnya adalah pengalaman, oleh karena itu penganut faham ini tidak mengenal istilah kebenaran sebab kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris.


https://webdosen.budiluhur.ac.id/dosen/020004/diktat/etika/Etika%20Profesi%20&%20BP_cetak.pdf


0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 16 Maret 2012

Etika dan Profesionalisme

Diposting oleh siitii di 6:36:00 AM

  • Pengertian Etika

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia Etika adalah
Ilmu tentang apa yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban moral
Kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak

Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut oleh masyarakat.
Menurut asal usul kata Etika berasal dari bahasa Yunani  yaitu "Ethos" yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Etika hampir mirip dengan moral. Hanya saja moral lebih kepada rasa dan karsa manusia dalam melakukan segala hal di kehidupannya. Moral lebih mengacu kepada dorongan untuk menaati etika.

  • Paham Eudaemonisme
Prinsip pokok pada paham ini adalah kebahagiaan bagi diri sendiri dan kebahagiaan untuk orang lain. Menurut  Aristoteles untuk mencapai eudaemonia memerlukan 4 hal seperti :
1. Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan.
2. Kemauan
3. Perbuatan baik
4. Pengetahuan batiniah

  • Paham Positivisme
Secara Etimologi, positivisme berasal dari bahasa filsafat yang memiliki makna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. tokoh aliran ini adala August Comte (1798-1857). dasarnya paham Positivisme bukanlah suatu aliran yang berdiri sendiri namun masih memerlukan empirisme dan rasionalisme.
Paham positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar dan didasarkan pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan tersebut diperoleh dengan cara penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat. hal ini dikarenakan oleh spekulasi metafisis dihindari. Terminoogi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad 19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metafisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi, fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual. Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate cause) dari setiap fenomena yang terjadi.
Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi (fictionalist). Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup), pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abat 20 yang disebut logika positivisme (logical positivism).
Pengajaran utama dalam logika positivisme dikembangkan pada tahun 1920 oleh Moritz Schlich, Herbert Feigl, Kurt Gödel, Hans Hahn, Otto Neurath, Friedrich Waismann, Rudolf Carnap and kelompok lain yang sering disebut Vienna Circle. Logika positivisme menempati posisi sebagai filosofi empiris yang radikal, dan para pendirinya percaya bahwa hal ini merupakan awal babak baru dalam penyelidikan filosofi. Tujuan dari seluruh analisis filosofi adalah analisis logika dari ilmu yang dinyatakan sebagai positif, atau empiris, yang merupakan label dari logika positivisme.
Logika positivisme mengalami modifikasi dan akhirnya digantikan selama dua dasa warsa dengan bentuk yang lebih matang dari pengajaran para positivis yang disebut logika empirisme (logical empiricism). Dikelompokkan melalui adanya perbedaan dalam membuat analisis, ahli falsafah yang mempunyai sumbangan pemikiran adalah Carnap, Ernest Nagel, Carl Hempel, dan Richard Braithwaite.
Aliran Marxisme
Berdasarkan “Dialectical Materialsme” yaitu segala sesuatu yang ada dikuasai oleh keadaan material dan keadaan material pun juga harus mengikuti jalan dialektikal itu. Aliran ini memegang motto “segala sesuatu jalan dapatlah dibenarkan asalkan saja jalan dapat ditempuh untuk mencapai sesuatu tujuan”. Jadi apapun dapat dipandang baik asalkan dapat menyampaikan/menghantar kepada tujuan


  • Aliran Naturalisme
Naturalisme berasal dari kata “nature.” Kadang mendefinisikan “nature” hanya dalam makna dunia material saja, sesuatu selain fisik secara otomatis menjadi “supranatural.” Tetapi dalam realita, alam terdiri dari alam material dan alam spiritual, masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan, misalnya, memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi sebagai asal dan fondasi kebenaran.
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk. Jean Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan adalah menjadi perusak alam semesta.

  • Aliran Idealisme
Sangat mementingkan eksistensi akal pikiran manusia sebab pikiran manusialah yang menjadi sumber ide. Ungkapan terkenal dari aliran ini adalah “segala yang ada hanyalah yang tiada” sebab yang ada itu hanyalah gambaran/perwujudan dari alam pikiran (bersifat tiruan). Sebaik apapun tiruan tidak akan seindah aslinya (yaitu ide). Jadi yang bai itu hanya apa yang ada di dalam ide itu sendiri.


  • Aliran Pragmatisme
Aliran ini menititk beratkan pada hal-hal yang berguna dari diri sendiri baik yang bersifat moral maupun material. Yang menjadi titik beratnya adalah pengalaman, oleh karena itu penganut faham ini tidak mengenal istilah kebenaran sebab kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris.


https://webdosen.budiluhur.ac.id/dosen/020004/diktat/etika/Etika%20Profesi%20&%20BP_cetak.pdf


0 komentar on "Etika dan Profesionalisme"

Posting Komentar